Sumatera (initogel) — Di balik banjir yang merendam sawah dan longsor yang memutus jalan desa, ada jeritan lain yang kerap luput dari sorotan: ternak warga yang sakit, hanyut, atau kehilangan pakan. Bagi petani dan peternak kecil di Sumatera, ternak bukan sekadar aset ekonomi, melainkan penopang hidup keluarga. Menyadari hal itu, Sudaryono menegaskan bahwa negara hadir untuk menangani ternak terdampak bencana di berbagai wilayah Sumatera.
Pernyataan ini menjadi penguat bagi para peternak yang tengah berjuang memulihkan kehidupan setelah bencana alam melanda.
Ternak sebagai Nafas Kehidupan
Di banyak desa, sapi, kambing, dan unggas adalah tabungan hidup. Ketika bencana datang, kehilangan ternak berarti kehilangan modal untuk bangkit. Ada ternak yang terjebak genangan, ada yang kekurangan pakan berhari-hari, dan ada pula yang terserang penyakit pascabencana.
“Kalau ternak mati, kami mulai dari nol lagi,” ujar Pak Herman, peternak sapi di wilayah terdampak banjir. “Makanya bantuan itu sangat kami tunggu.”
Langkah Cepat di Lapangan
Kementerian Pertanian melalui jajarannya bergerak dengan pendekatan praktis. Penanganan difokuskan pada penyelamatan ternak yang masih bisa dipulihkan, distribusi pakan darurat, layanan kesehatan hewan, serta pendataan kerugian peternak.
Petugas veteriner diterjunkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk memeriksa kondisi ternak, memberikan pengobatan, dan mencegah penyebaran penyakit yang sering muncul setelah banjir dan longsor.
“Keselamatan ternak adalah bagian dari ketahanan pangan,” tegas Sudaryono. “Negara tidak boleh abai.”
Bukan Sekadar Bantuan, Tapi Pemulihan
Wamentan menekankan bahwa kehadiran negara tidak berhenti pada bantuan sesaat. Upaya pemulihan jangka menengah juga disiapkan agar peternak dapat kembali produktif. Ini mencakup pendampingan teknis, pemulihan kandang, hingga dukungan bibit ternak bagi yang kehilangan.
Bagi peternak kecil, kepastian pendampingan ini memberi harapan. “Kalau ada yang mendampingi, kami lebih berani bangkit,” kata seorang peternak kambing.
Menjaga Rantai Pangan
Bencana di Sumatera tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada rantai pasok pangan. Gangguan pada sektor peternakan bisa berimbas pada ketersediaan protein hewani dan pendapatan masyarakat.
Karena itu, penanganan ternak terdampak bencana dipandang sebagai bagian dari strategi besar menjaga stabilitas pangan nasional—mulai dari desa hingga pasar.
“Kalau peternak jatuh, dampaknya ke mana-mana,” ujar seorang penyuluh pertanian. “Makanya kehadiran negara itu penting.”
Warga Merasakan Kehadiran Negara
Di lapangan, bantuan yang datang—meski sederhana—memiliki makna besar. Pakan darurat, obat hewan, dan kunjungan petugas menjadi tanda bahwa peternak tidak dibiarkan sendiri.
“Setidaknya kami tahu ada yang peduli,” ujar Ibu Sari, peternak unggas. “Itu membuat kami lebih kuat.”
Belajar dari Bencana
Wamentan juga mendorong penguatan kesiapsiagaan ke depan, termasuk penataan kandang yang lebih aman, edukasi mitigasi bencana bagi peternak, serta sistem respons cepat ketika bencana terjadi.
Bencana memang tak bisa dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya bisa dikurangi jika persiapan dilakukan bersama.
Bangkit Bersama
Di Sumatera, pemulihan pascabencana masih berlangsung. Lumpur belum sepenuhnya dibersihkan, kandang belum semuanya berdiri kembali. Namun di antara keterbatasan itu, ada semangat untuk bangkit.
Melalui pernyataan dan langkah konkret Wamentan, pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun penting: negara hadir hingga ke kandang ternak, memastikan peternak tidak kehilangan harapan.
Karena bagi mereka, menyelamatkan ternak berarti menyelamatkan masa depan keluarga—dan di situlah peran negara menemukan maknanya.
