PSI Ungkap Alasan Gelar Rakernas di Makassar: Mendengar Daerah, Merawat Kebhinekaan

delapantoto – Pemilihan Kota Makassar sebagai lokasi Rapat Kerja Nasional bukan keputusan yang lahir dalam semalam. Bagi Partai Solidaritas Indonesia, Makassar bukan sekadar titik di peta Indonesia timur, melainkan ruang dialog yang sarat makna sosial, sejarah, dan keberagaman. Rakernas ini, menurut PSI, menjadi momentum untuk mendekatkan proses pengambilan keputusan politik dengan denyut kehidupan masyarakat daerah.

Di tengah kecenderungan kegiatan nasional yang terpusat di Pulau Jawa, PSI memilih melangkah ke timur. Langkah ini dibaca sebagai upaya simbolik sekaligus substantif: menegaskan bahwa suara daerah memiliki bobot yang sama dalam menentukan arah kebijakan dan strategi politik nasional.

Makassar sebagai Simbol Indonesia yang Majemuk

PSI menilai Makassar merepresentasikan wajah Indonesia yang plural. Kota pelabuhan ini sejak lama menjadi titik temu berbagai etnis, agama, dan latar belakang sosial. Dalam perspektif human interest, Makassar adalah cermin kehidupan bersama—tempat perbedaan bukan sekat, melainkan realitas sehari-hari yang dikelola melalui dialog dan toleransi.

Dengan menggelar Rakernas di Makassar, PSI ingin merasakan langsung atmosfer tersebut. Diskusi internal partai diharapkan tidak terlepas dari konteks masyarakat yang hidup berdampingan dalam keberagaman, sebuah nilai yang kerap digaungkan namun perlu terus dirawat dalam praktik nyata.

Mendekatkan Pusat dan Daerah

Alasan lain yang diungkap PSI adalah keinginan untuk memperkuat komunikasi antara struktur pusat dan daerah. Rakernas di Makassar memberi ruang lebih luas bagi kader-kader dari Indonesia timur untuk menyampaikan aspirasi tanpa harus selalu datang ke ibu kota. Bagi PSI, ini bukan soal efisiensi semata, tetapi keadilan partisipasi.

Banyak persoalan daerah memiliki karakter yang berbeda dengan wilayah lain—mulai dari isu ekonomi maritim, ketimpangan infrastruktur, hingga akses pendidikan dan kesehatan. Dengan berada langsung di daerah, pembahasan kebijakan menjadi lebih membumi, tidak terlepas dari realitas lapangan yang dihadapi masyarakat.

Politik yang Hadir dan Mendengar

Dalam konteks keamanan publik dan kemanusiaan, PSI menekankan bahwa politik seharusnya hadir sebagai solusi, bukan sekadar wacana. Rakernas di Makassar diharapkan menjadi ruang refleksi untuk merumuskan langkah-langkah politik yang sensitif terhadap kebutuhan warga, termasuk kelompok muda, perempuan, dan masyarakat pesisir.

Narasi yang dibangun PSI menempatkan Rakernas bukan hanya sebagai forum administratif, tetapi sebagai proses mendengar. Mendengar cerita daerah, tantangan hidup masyarakat, serta harapan akan negara yang adil dan melindungi semua warganya.

Pesan Simbolik bagi Demokrasi

Pilihan lokasi ini juga membawa pesan simbolik: demokrasi Indonesia tidak boleh terjebak pada sentralisme. Dengan menyebar kegiatan nasional ke berbagai wilayah, partai politik diingatkan bahwa legitimasi mereka bertumpu pada kepercayaan rakyat di seluruh penjuru negeri.

Bagi PSI, Makassar menjadi panggung untuk menegaskan komitmen tersebut. Sebuah kota yang mengajarkan bahwa Indonesia dibangun dari banyak suara, dan setiap suara layak didengar.

Rakernas memang akan berakhir, namun pesan yang ingin ditinggalkan lebih panjang dari sekadar agenda rapat. Melalui Makassar, PSI ingin menunjukkan bahwa politik bisa berjalan beriringan dengan empati—mengalir dari pusat ke daerah, dan kembali lagi ke pusat dengan perspektif yang lebih utuh tentang Indonesia.