Pusdalops: 121 Orang Luka dan 41 Hilang Akibat Bencana Alam di Sumut

Medan (initogel) — Angka itu disampaikan dengan suara tertahan, namun maknanya mengguncang. Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) mencatat 121 orang mengalami luka-luka dan 41 orang dinyatakan hilang akibat rangkaian bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara.

Hujan berintensitas tinggi yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir memicu banjir, longsor, dan kerusakan infrastruktur, menempatkan ribuan warga dalam situasi darurat. Di balik data korban, ada keluarga yang tercerai oleh arus, warga yang kehilangan rumah, dan penantian panjang di posko-posko pengungsian.


Upaya Penyelamatan Berpacu dengan Waktu

Tim gabungan dari Basarnas, BPBD daerah, TNI–Polri, relawan, dan tenaga medis terus melakukan pencarian terhadap korban hilang. Medan yang sulit—tanah labil, aliran sungai deras, serta cuaca yang belum sepenuhnya bersahabat—menjadi tantangan utama.

Evakuasi korban luka dilakukan secara bertahap ke fasilitas kesehatan terdekat. Tenaga medis bekerja tanpa jeda, memastikan luka tertangani dan risiko infeksi diminimalkan. Keamanan publik menjadi prioritas: penutupan jalur berbahaya, peringatan dini, dan pemantauan lanjutan terus dilakukan.


Luka yang Tak Selalu Terlihat

Selain cedera fisik, bencana menyisakan luka psikologis. Anak-anak yang terpisah dari keluarga, lansia yang kehilangan tempat tinggal, dan warga yang menyaksikan rumahnya terseret arus membutuhkan pendampingan. Di posko pengungsian, relawan menyediakan dukungan dasar—makanan, selimut, dan ruang aman—sembari mendengarkan kisah-kisah duka.

“Yang kami tunggu kabar anak saya,” ucap seorang ibu dengan mata sembab. Kalimat itu mengingatkan bahwa setiap angka adalah nyawa dan relasi.


Tanggung Jawab Negara dan Tata Kelola Darurat

Dalam kerangka hukum kebencanaan, negara berkewajiban memastikan penanganan cepat, transparan, dan akuntabel. Pusdalops menegaskan pembaruan data akan disampaikan berkala untuk menghindari simpang siur informasi. Koordinasi lintas sektor diperkuat—dari logistik, kesehatan, hingga pemulihan awal.

Langkah mitigasi jangka pendek seperti penguatan tanggul darurat, normalisasi aliran air, dan penataan pengungsian dilakukan sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk penanganan lebih permanen.


Belajar dari Alam, Menguatkan Ketahanan

Rangkaian bencana ini kembali menyoroti pentingnya kesiapsiagaan berbasis risiko: tata ruang yang memperhitungkan daerah rawan, sistem peringatan dini yang menjangkau warga, serta edukasi kebencanaan yang konsisten. Ketahanan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga pengetahuan dan solidaritas.


Menjaga Harapan di Tengah Duka

Pencarian masih berlangsung. Setiap jam adalah kesempatan. Di Sumatera Utara, kerja senyap para petugas dan relawan menjadi jangkar harapan—bahwa yang hilang dapat ditemukan, yang luka dapat pulih, dan yang terdampak tidak dibiarkan sendiri.

Di tengah bencana, kemanusiaan diuji dan ditunjukkan. Angka boleh mencatat, tetapi empati dan tindakan yang akan menentukan bagaimana kita bangkit bersama.